Pedagang 'Gule Gending' Di Ujung Senja - Mandalikatoday




Home / Budaya / Headline

Rabu, 1 Mei 2024 - 20:01 WIB

Pedagang ‘Gule Gending’ Di Ujung Senja

Lombok Tengah, NTB | Mandalika Today – Salah satu makanan tradisional dari berbagai aneka ragam makanan khas Lombok adalah manisan (permen) “Gule Gending”.

Gule Gending berasal dari dua kata yaitu kata “Gule” yang artinya gula atau permen dan kata “Gending” berarti musik. Adapun gule (permen) tersebut terbuat dari gula pasir berbentuk serabut (kembang gula) dan biasanya berwarna merah. Permen Gule Gending dijajakan dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung sambil menabuh wadah gule (permen) dengan alunan lagu-lagu tradisional sasak. Dengan demikian permen tersebut dinamakan Gule Gending.

Wadah Gule Gending memang dirancang selain difungsikan sebagai wadah tempat menaruh Gule Gending, juga sebagai alat musik yang bisa menghasilkan suara yang bagus dan merdu untuk menarik perhatian para calon pembeli Gule Gending.

Dulunya ketika dari kejauhan terdengar sayup-sayup sampai suara alunan musik pedagang Gule Gending, anak-anak dengan suka cita berkumpul untuk menyongsong si pedagang Gule Gending tiba. Mereka tidak hanya mau membeli manisan Gule Gending namun mereka juga ingin sekedar menikmati alunan musik tradisional yang dimain kan oleh si pedagang Gule Gending.

Baca Juga :  Bupati Loteng Buka STQH Ke XXVIII Di Kecamatan Praya Barat Daya 

Alunan musik sejenak hening pertanda ada yang membeli Gule Gending. Setelah melayani para pembeli, musik Gule Gending mulai ditabuh kembali. Kali ini anak-anak yang sudah mendapatkan Gule Gending tidak sadar menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil makan Gule Gending. Mereka sungguh kelihatan riang dan gembira.

Namun dengan berjalannya waktu, varian makanan khususnya jenis, model, bentuk maupun aroma  manisan (permen) saat ini semakain banyak di pasaran, sehingga manisan Gule Gending semakin terdesak. Banyak ana-anak yang lebih memilih permen dengan cita rasa dan aroma yang lebih variatif serta tersedia kapan saja mereka inginkan ketimbang Gule Gending yang tidak bisa dibeli setiap saat.

Hal ini juga disebabkan jenis musik yang dimainkan oleh pedagang Gule Gending sudah tidak menarik lagi karena musik-musik tersebut sudah tidak sesuai dengan era dan selera anak-anak masa kini, sehingga pedagang Gule Gending yang dulunya cukup banyak, kini kian langka, bahkan bisa dikatakan pedagang gule gending sudah di ujung senja.

Baca Juga :  Guru Siti Munajah: Pengabdian Puluhan Tahun Berakhir Pilu, Sertifikasi dan Inpassing Tak Jadi Jaminan.

Mencermati permasalahan tersebut maka pedagang Gule Gending seharusnya lebih kreatif dan inovatif dalam menghadapi persaingan global saat ini. Mereka seharusnya lebih peka terhadap selera dan harapan konsumen kalau mereka ingin selalu tetap eksis. Diantaranya dengan memproduksi permen Gule Gending dengan  aroma, cita rasa dan warna manisan Gule Gending yang lebih memikat selera para konsumen, terutama anak-anak.

Para pedagang Gule Gending juga harus mampu memainkan instumen musik sasak yang dikolaborasikan dengan genre musik sesuai dengan selera anak-anak masa ini, seperti lagu-lagu yang dilantunkan oleh boyband, girlband ataupun instrumen lain yang lagi populer saat ini.

Baca Juga :  Dandim Loteng Pimpin Upacara Peringatan Hari Juang TNI AD dan Gelar Bakti Sosial Untuk Masyarakat

Disamping itu, agar pedagang Gule Gending tetap bisa eksis dan berkembang, maka pihak pemerintah seharusnya bisa memfasilitasi mereka dengan cara memberikan modal dan mempromosikannya sebagai salah satu aset budaya yang dapat menarik wisatawan.

Dengan Atraksi mereka memainkan irama wadah Gule Gendingnya bisa dijadikan sebagai salah satu acara seremonial untuk menyambut para tamu, baik para tamu lokal maupun tamu dari manca negara yang kebetulan berlibur ke daerah kita. Dengan demikian Insya Allah pedagang Gule Gending akan tetap eksis bahkan akan berkembang sehingga bisa membuka lapangan kerja baru.

Demikian juga dengan daya tarik pedagang Gule Gending sebagai salah satu aset budaya, maka diharapkan wisatawan yang berkunjung ke daerah kita akan semakin bertambah yang tentunya akan berdampak pada bertambahnya devisa negara pada umumnya dan pendapatan daerah NTB pada khususnya.

By : Zul Karna

Share :

Baca Juga

Budaya

Peran Persit Kartika Chandra Kirana Dalam Pemberdayaan Perempuan

Headline

Dominasi TKA di Mandalika: Alarm dari SPN–KSPI NTB untuk Masa Depan Pekerja Lokal

Budaya

HUT Ke – 81, Desa Barabali Usung Tema Desa Cerdas Menuju Desa Digital

Budaya

Target Terlampaui : Fokus Anggaran Beasiswa 2024 Untuk Penyelesaian Studi

Headline

Soal Dugaan Pungli Bantuan RTLH, Pemdes Selong Belanak dan Warga Angkat Bicara: Data Beda Jauh!

Budaya

Olivia Jadi Cermin Pengabdian, Ketua Bhayangkari Lotara Ajak Publik Pahami Perjuangan Sunyi Dibalik Seragam.

Budaya

Jelang MotoGP Mandalika 2023, Polres Loteng Laksanakan Baksos Dan Bansos Di Areal Sirkuit Mandalika

Headline

Kemala Bhayangkari NTB Siap Berpartisipasi dalam Kemala Run 2026 di Bali