Sudamala Resorts dan Bali Pink Ribbon Skrining dan Edukasi Warga Lombok soal Bahaya Kanker Payudara
Mandalikatoday-Lotara,(NTB) – Antrean warga terlihat memadati kantor desa sejak pagi hari. Namun kali ini, mereka bukan datang untuk mengurus administrasi atau bantuan sosial, melainkan mengikuti pemeriksaan kanker payudara gratis yang digelar melalui roadshow kesehatan oleh Sudamala Resorts bersama Yayasan Sudamala Bumi Insani dan Bali Pink Ribbon.
Kegiatan yang berlangsung pada 5 Mei 2026 di Desa Senggigi dan 6 Mei 2026 di Desa Medana tersebut menjadi langkah nyata mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara, terutama di wilayah pedesaan yang masih minim edukasi kesehatan.
Antusiasme warga terlihat tinggi. Ratusan perempuan hadir untuk mengikuti pemeriksaan langsung oleh tenaga medis profesional dari RS Siloam dan relawan Bali Pink Ribbon.
Selain skrining gratis, peserta juga mendapatkan edukasi tentang gejala awal kanker payudara, pemeriksaan mandiri, hingga pentingnya pemeriksaan rutin.
Pembina Yayasan Sudamala Bumi Insani sekaligus Commercial Director Sudamala Resort Group, Wayan Swastana, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda sosial biasa, melainkan upaya membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini.
“Ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Kami ingin mendorong masyarakat benar-benar mengambil langkah nyata, bukan menunggu sampai sakit,” ujar Wayan Swastana, Rabu (6/5/2026).
Meski menargetkan sekitar 200 peserta di setiap desa, capaian hari pertama di Desa Senggigi baru mencapai sekitar 100 peserta. Namun demikian, pihak penyelenggara menilai tingginya minat masyarakat menjadi sinyal positif bahwa kesadaran kesehatan mulai tumbuh.
Di sisi lain, kegiatan ini juga membuka fakta bahwa masih banyak masyarakat yang memilih pengobatan tradisional dibanding memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Kepala Desa Medana mengungkapkan, penyakit kanker selama ini masih dianggap menakutkan sehingga banyak warga enggan melakukan pemeriksaan dini.
“Penyakit kanker ini masih dianggap momok. Bahkan ada yang lebih percaya ke pengobatan non-medis. Kegiatan seperti ini membuka mata masyarakat,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan informasi kesehatan di desa menjadi salah satu penyebab rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini kanker payudara. Padahal, penyakit tersebut memiliki peluang kesembuhan yang tinggi apabila ditemukan lebih awal.
Melalui pendekatan langsung ke desa, roadshow ini diharapkan mampu memutus pola keterlambatan pemeriksaan kesehatan yang selama ini terjadi.
Warga yang ditemukan memiliki indikasi gejala juga langsung diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Wayan Suwastana menegaskan, keterbatasan sumber daya membuat program tersebut sementara difokuskan di wilayah sekitar operasional perusahaan. Meski demikian, pihaknya berharap langkah kecil tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut bergerak di bidang kesehatan masyarakat.
“Kami realistis. Tapi harapannya, apa yang kami lakukan bisa menginspirasi pihak lain terutama industri untuk ikut bergerak,” ujarnya.
Bagi pemerintah desa, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kampanye kesehatan masyarakat yang selama ini hanya dilakukan melalui Posyandu atau kegiatan terbatas lainnya.
“Yang kami kejar bukan cuma hari ini. Tapi bagaimana setelah ini masyarakat jadi lebih sadar, lebih berani periksa, dan tidak lagi menunggu parah,” tegas Kepala Desa Medana.
Roadshow skrining kanker payudara ini memang hanya berlangsung beberapa hari. Namun dampaknya diharapkan mampu membangun kesadaran jangka panjang, terutama bagi perempuan di desa agar lebih peduli terhadap kesehatan dan tidak takut melakukan pemeriksaan sejak dini.
(JB)









