LOMBOK TENGAH | Mandalika Today – Pendekatan kepemimpinan yang menyatu dengan akar rumput, keamanan lingkungan, dan pelestarian adat istiadat menjadi warna tersendiri di Desa Gemel, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Gemel, H. Zakaria, S.Pd., M.Pd., desa yang memiliki 8 dusun dengan mata pilih sekitar 3.600 jiwa ini terus berbenah melalui program inovatif yang menyentuh aspek sosial, keagamaan, hingga keamanan warga.
Meskipun memimpin dalam masa jabatan PAW, H. Zakaria berkomitmen penuh membawa visi besar “Bersama Warga Kerja Nyata Membangun Desa Menuju Desa Gemel yang Maju dan Bermartabat.” Beliau bertekad melakukan perubahan mendasar pada pola pikir (mindset) masyarakat demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan mandiri. Hal tersebut ditegaskannya saat ditemui langsung dalam sesi wawancara di Kantor Desa Gemel, Kamis (16/7/2026).
Salah satu terobosan unik yang digalakkan oleh Pemdes Gemel di bawah kepemimpinan H. Zakaria adalah kegiatan ronda malam yang dilakukan secara berkala. Berbeda dengan pos kamling konvensional yang cenderung menetap, Kades Gemel memimpin langsung aksi berkeliling desa setiap dini hari.
”Setiap malam, sekitar pukul 02.00 WITA, saya bersama enam anggota PKD mulai keliling dari dusun ke dusun. Saat berkeliling, kami memukul kentongan, tiang listrik, atau membuat bunyi-bunyian untuk menandakan bahwa petugas keamanan sudah hadir di lingkungan mereka,” ujar H. Zakaria.
Menariknya, aksi ronda ini tidak sekadar berfokus pada upaya menangkap pelaku kejahatan, melainkan memiliki esensi filosofis yang lebih dalam: edukasi dan menumbuhkan kesadaran mandiri.
”Tujuan inti kami berkeliling dan membangunkan masyarakat bukan semata-mata mencari maling, melainkan membangunkan kesadaran agar mereka ikut bertanggung jawab terhadap keamanan miliknya sendiri. Kami ingin memastikan warga terjaga untuk mengecek kandang ternak atau barang berharga mereka, sehingga keamanan lingkungan terjaga secara kolektif,” tegasnya.
Selain menjaga stabilitas keamanan, kepedulian sosial juga menjadi prioritas nyata sejak awal ia mengemban amanah sebagai Kades PAW. Menggunakan dana pribadi—bukan dari Dana Desa—H. Zakaria beserta jajaran staf selalu hadir melayat dan memberikan santunan berupa 10 dus air minum kepada setiap keluarga yang berduka. Selama setahun menjabat, tercatat ada 56 warga yang berduka dan semuanya mendapat perhatian langsung dari pemdes.
Latar belakangnya sebagai seorang Budayawan/Pembayun (tokoh adat Sasak yang mahir dalam prosesi adat pernikahan) juga membuatnya sering turun langsung membantu warga dalam prosesi selabar hingga akad nikah, terutama di wilayah bagian selatan. Untuk meregenerasi keahlian ini, Pemdes Gemel aktif melatih jajaran kepala dusun (kadus), di mana saat ini sudah ada tiga kepala dusun yang mulai mandiri tampil dalam prosesi adat sorong serah.
Melalui program bimbingan rohani bulanan yang dilaksanakan setiap Jumat minggu pertama di mushola desa, Pemdes Gemel secara aktif mengedukasi para kadus, kader, RT, serta pengurus PKK dan lansia.
Program ini menghadirkan para Tuan Guru untuk membahas hal-hal krusial yang sering memicu konflik di masyarakat, seperti hukum waris (faraid) serta aturan perkawinan dan perceraian (kawin-cerai). Langkah preventif ini terbukti efektif meredam konflik keluarga di tingkat dusun sebelum mencuat ke ranah hukum.
Selain itu, edukasi mengenai pelestarian budaya Sasak juga menyasar ibu-ibu PKK, khususnya terkait tata cara dan makna filosofis penggunaan pakaian adat perempuan Sasak berdasarkan arah selempang:
Selempang ke kiri: Menandakan perempuan tersebut belum menikah (masih gadis).
Selempang ke kanan: Menandakan sudah menikah.
Selempang kiri dan kanan: Menandakan sudah memiliki pasangan, namun suaminya sedang berada di luar daerah atau luar negeri.
Di bidang keagamaan, Desa Gemel baru saja sukses menggelar Training Center (TC) pembinaan LPTQ di Yayasan Al-Mujahidin, Dusun Kebuntenang. Kegiatan ini berhasil menjaring qori-qoriah, hafiz-hafizah, serta mufassir-mufassirah terbaik yang siap mewakili Desa Gemel dalam ajang MTQ Tingkat Kecamatan pada 23–26 Juli mendatang.
Sementara di sektor pemberdayaan ekonomi, program pembagian 20 bibit cabai beserta polybag kepada setiap rumah tangga pada awal Agustus lalu terbukti sukses. Program ketahanan pangan pekarangan ini mendapat respons sangat positif karena mampu menekan pengeluaran dapur harian masyarakat secara signifikan.
Sikap Terkait Kelanjutan Kepemimpinan
Mengingat posisinya saat ini sebagai pejabat PAW, banyak masyarakat yang menaruh harapan besar agar dirinya kembali melanjutkan estafet kepemimpinan pada periode penuh berikutnya. Menanggapi hal tersebut, H. Zakaria menjawabnya dengan bijak dan menyerahkan sepenuhnya pada kemaslahatan masyarakat serta petunjuk Tuhan.
”Untuk sementara ini saya masih beristikharah. Sekiranya kehadiran saya ini bermanfaat untuk masyarakat, insyaallah saya akan lanjutkan. Namun, sekiranya hal itu membawa kemudaratan bagi masyarakat, lebih baik saya tidak maju. Semboyan kami di setiap kompetisi adalah: Mari kita bersama-sama berkompetisi, kalah menang semua senang,” pungkasnya menutup wawancara.









