Lombok Tengah, NTB – Upaya memperkuat pemantauan infeksi pada ibu pasca persalinan dan bayi baru lahir di RSUD Praya terus diperkuat melalui CAGED Project – Postpartum and Newborn Monitoring.
Chief Operating Officer Summit Institute for Development (SUMMIT), Lia Rosida, S.Pd, M.Dev.St, menjelaskan bahwa CAGED merupakan inisiatif kolaboratif yang mencakup wilayah Asia-Pasifik dan Afrika, dengan fokus pada penguatan kapasitas surveilans genomik serta penerjemahan informasi genomik menjadi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti dalam bidang kesehatan masyarakat.
“CAGED Project merupakan inisiasi dari Summit Institute for Development yang bekerja sama dengan OUCRU Indonesia (Oxford University Clinical Research Unit Indonesia) sebagai bagian dari upaya kolaboratif untuk memperkuat surveilans genomik dan penerapan hasil analisis genomik ke dalam intervensi kesehatan masyarakat,” ujar Lia via Whatsapp, kamis (17/09/2026).
Menurut Lia, di RSUD Praya, SUMMIT bekerja sama sejak Januari 2025 hingga Desember 2027 dalam pelaksanaan CAGED Project, salah satunya melalui surveilans Klebsiella pneumoniae (Kpn).
“Kpn merupakan patogen penting yang dapat berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas, terutama pada kelompok rentan seperti neonatus yang dirawat di NICU dan ibu pasca persalinan melalui seksio sesarea. Melalui surveilans ini, CAGED Project mendukung pemantauan pola infeksi dan resistensi antimikroba serta pengumpulan informasi untuk memahami potensi transmisi dan karakteristik infeksi Kpn,” jelasnya.
Lia menambahkan, untuk mendukung kegiatan tersebut, kolaborasi dengan RSUD Praya melibatkan beberapa unit terkait. Pada bagian NIFAS, kegiatan berfokus pada pengumpulan responden ibu nifas dan pemantauan kondisi kesehatan setelah persalinan, sementara unit NICU dan Laboratorium mendukung proses identifikasi dan koleksi sampel terkait sepsis neonatus.
“Data klinis dan sampel yang dikumpulkan dari berbagai unit tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung surveilans dan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai infeksi pada ibu dan neonatus,” kata Lia.
Selain pengumpulan data di rumah sakit, Lia mengungkapkan bahwa CAGED Project juga melakukan postpartum follow-up melalui kunjungan rumah dan komunikasi oleh Community Health Promoters (CHP).
“Kegiatan ini membantu memantau kondisi ibu dan bayi setelah pulang, sekaligus mendukung deteksi dini tanda infeksi, edukasi, dan rujukan apabila diperlukan. Dengan menghubungkan kegiatan di rumah sakit dan tindak lanjut di komunitas, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pemantauan infeksi serta mendukung keberlanjutan perawatan ibu dan bayi,” ungkapnya.
Hingga saat ini, lanjut Lia, sebanyak 990 ibu di Kabupaten Lombok Tengah telah mendapatkan kunjungan dalam rangka postpartum follow-up. Kegiatan tersebut memberikan manfaat dalam mendukung deteksi dini tanda infeksi dan komplikasi, pemantauan kesehatan ibu dan bayi, dukungan terhadap proses menyusui dan pemulihan ibu, pemberian edukasi kesehatan, serta memastikan keberlanjutan perawatan setelah pasien pulang dari rumah sakit.
“Dari keseluruhan ibu yang telah mendapatkan kunjungan tersebut, tercatat 30 ibu yang mengalami infeksi luka pasca operasi SC. Pada kelompok neonatus yang menjadi bagian dari pemantauan, ditemukan 23 bayi dengan hasil positif sepsis selama menjalani perawatan di NICU,” papar Lia.
Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa infeksi pada periode pasca persalinan dan neonatal masih menjadi salah satu aspek kesehatan yang memerlukan perhatian dan pemantauan berkelanjutan. Angka tersebut tidak semata-mata menggambarkan kondisi pelayanan di satu fasilitas, tetapi juga memberikan gambaran mengenai pentingnya penguatan sistem deteksi, pemantauan, rujukan, dan tindak lanjut infeksi secara berkesinambungan, baik di fasilitas kesehatan maupun di tingkat komunitas.
“Adanya kasus SSI dan sepsis yang teridentifikasi melalui rangkaian kegiatan ini sekaligus menunjukkan nilai penting dari pemantauan setelah pasien pulang, karena kondisi infeksi tidak selalu dapat teridentifikasi atau berkembang sepenuhnya selama masa perawatan di rumah sakit,” tegas Lia.
Dengan mengintegrasikan surveilans genomik, pemantauan klinis, koleksi sampel, serta tindak lanjut postpartum berbasis komunitas, CAGED Project di RSUD Praya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai beban dan pola infeksi, termasuk infeksi yang berkaitan dengan Kpn, pada ibu dan neonatus.
“Kolaborasi ini juga diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan data dan informasi ilmiah untuk mendukung pencegahan infeksi, deteksi dini, respons yang lebih cepat, serta peningkatan kesinambungan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi,” jelasnya.
Selain itu, Lia juga mengungkapkan bahwa kerja sama lain yang sedang dikembangkan dengan RSUD Praya adalah Early Risk Detection – Promising Project yang berfokus pada deteksi dini risiko pada ibu hamil dan persalinan.
“Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko sejak awal, termasuk menentukan apakah seorang ibu dapat melahirkan di Puskesmas atau memerlukan rujukan ke rumah sakit,” ujarnya.
Namun, Lia menegaskan bahwa kerja sama tersebut masih berada pada tahap proses inisiasi yang sangat awal dan saat ini tim masih dalam proses pengembangan untuk melihat bagaimana pendekatan tersebut dapat diimplementasikan ke depannya.
(HSH)









