Budaya Pringgasela Menyala: Festival ‘Nyiwaq’ Tampilkan Simfoni Tradisi Kaki Rinjani - Mandalikatoday




Home / Budaya / Headline

Minggu, 27 Juli 2025 - 22:31 WIB

Budaya Pringgasela Menyala: Festival ‘Nyiwaq’ Tampilkan Simfoni Tradisi Kaki Rinjani

Lombok Timur — Di tengah gemerlap malam dan megahnya kaki Gunung Rinjani, Desa Pringgasela kembali mencuri perhatian lewat Festival Alunan Budaya 2025 yang diselenggarakan 19-27 Juli itu merupakan sebuah pesta budaya yang tak sekadar meriah, tapi juga penuh makna. Mengusung tema “Nyiwaq”—yang berarti sembilan—festival ini berhasil menyulap ruang publik menjadi panggung ekspresi, kolaborasi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Nyiwaq: Sembilan Wajah, Satu Jiwa Budaya

Festival yang telah memasuki tahun ke-9 ini menampilkan Sembilan Babak Budaya yang membentang dari tradisi tenun hingga pertunjukan teatrikal. Setiap babak adalah perwujudan dari nilai-nilai lokal: kesetiaan, regenerasi, spiritualitas, hingga perjuangan. Sorotan utama jatuh pada pagelaran “Sembilan Kali Lahir (NYA)”, pertunjukan teatrikal kolosal yang membungkus budaya dalam narasi dramatik dan visual yang memukau.

“Kami tidak hanya ingin menampilkan seni, tapi menyampaikan pesan: budaya harus terus hidup dan menghidupi,” ujar Nizar Ashari, penggagas festival yang juga putra daerah.

Benang, Perempuan, dan Perlawanan

Motif tenun Pringgasela yang khas ternyata menyimpan makna spiritual. Garis-garis lurus yang tampak sederhana adalah simbol istiqamah—jalan hidup yang terus menuju kebaikan.

Baca Juga :  Sambut HUT RI ke-81, Pengusaha Muda Lendang Nangka Utara Santuni 166 Anak Yatim Piatu

Tokoh perempuan setempat, Hj. Sir’ah, menyebut para ibu dulu menenun bukan hanya untuk keluarga, tapi juga untuk para pejuang.

“Tenunan kami bukan hanya kain, tapi selimut keberanian,” tuturnya haru.

Sementara itu, Ustadz Hayyi mengupas akar historis desa ini: Pringga berarti bambu, Sela berarti Selaparang—wilayah leluhur yang dulu menjadi pusat perlawanan.

Baca Juga :  Kepala UPTD Dikbud Suralaga Beberkan Program Sekolah Binaannya

Panggung Kolaborasi Generasi

Festival ini bukan milik satu kelompok, tapi milik semua. Para mahasiswa KKN dari berbagai universitas, UMKM lokal, hingga seniman muda turun tangan bersama. Bazar budaya, parade anak-anak, senam kolosal, talkshow reflektif, hingga tabligh akbar, bersatu dalam semangat gotong royong.

“Kami belajar bahwa budaya bukan sekadar tontonan, tapi keteladanan,” kata Gilang, Kordes KKN Universitas Mataram.

Dari Desa Menjadi Destinasi

Pagelaran akbar ini dihadiri oleh perwakilan Kemenparekraf, Bupati Lombok Timur, dan Staf Ahli Gubernur NTB. Semua memberikan apresiasi tinggi atas kualitas dan semangat masyarakat Pringgasela.

“Festival ini menunjukkan bahwa desa bisa menjadi pusat gerakan budaya nasional jika dikelola dengan cinta dan partisipasi warga,” puji perwakilan Kemenparekraf.

Budaya Bukan Warisan Diam, Tapi Nafas yang Terus Bergerak

Pringgasela membuktikan bahwa desa bukan hanya tempat tinggal, tapi ruang hidup budaya. Dari benang menjadi kain, dari kain menjadi simbol, dari simbol menjadi gerakan. Festival Alunan Budaya adalah bukti bahwa budaya tidak hanya dilestarikan, tapi terus dihidupkan bersama.

Baca Juga :  Kasi Dokkes Polres Loteng Terima Penghargaan Dari Kapolda NTB Pada Rakernis Biddokkes 2024.

(HSH)

Share :

Baca Juga

Budaya

Formen Loteng Santuni 55 Anak Yatim di Desa Saba Janapria

Headline

Kapolda NTB Buka Rakernis Fungsi Keuangan 2025, Tekankan Profesionalisme dan Transparansi Pengelolaan Anggaran

Budaya

Vihara Diraya Manggala Diresmikan: Simbol Inklusivitas dari Jantung Polres Lotara.

Headline

Kapolda NTB Letakkan Batu Pertama Pembangunan SPPG Polres Loteng: Kepedulian Polisi pada Gizi Anak

Budaya

TNI-Polri Dan Stakeholder Dukung Program Pekarangan Bergizi di Loteng.

Headline

Kejaksaan Negeri Lombok Tengah Raih Peringkat 1 Kinerja Terbaik Se-NTB Tahun 2025.

Budaya

Wisuda Tampa Kuliah Merupakan Pembodohan Intelektual Terhadap Masyarakat.

Headline

Polda NTB Siapkan Langkah Pengamanan Perayaan Nataru