LOMBOK TENGAH, NTB – Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mencatat capaian positif dalam pengendalian penyakit ternak. Di tengah harga sapi yang sedang tinggi, Pemkab Loteng juga tengah menyiapkan langkah stabilisasi pasokan dari Pulau Sumbawa yang masih menunggu penyelesaian dokumen Analisis Risiko (ANRIS).
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah, H. Idham Khalid mengungkapkan, kondisi kesehatan hewan (Keswan) ternak besar terutama sapi saat ini dalam keadaan terkendali.
“Alhamdulillah kondisi Keswan ternak besar terutama pada sapi PHMS penyakit PMK terkendali 95 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (9/9/2026).
Ia menjelaskan, tolak ukur keberhasilan kegiatan di Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner ada dua. Pertama, keberhasilan pencegahan dan pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) pada ternak. Kedua, meningkatkan produktivitas ternak baik secara kuantitas maupun kualitas.
Untuk mencapai tolak ukur tersebut, pihaknya terus menggencarkan pelayanan Keswan dan vaksinasi.
“Kegiatan yang dilaksanakan vaksinasi dan tetap berjalan. Sebagai upaya pencegahan dan penularan penyakit,” katanya.

Sementara untuk komoditas unggas, kondisinya disebut sangat variatif. Hal ini karena rata-rata peternak unggas di Loteng melaksanakan pola kemitraan dengan pengusaha, sehingga dinamika kesehatan dan produksinya sangat bergantung pada sistem kemitraan tersebut.
Di sisi ekonomi, H. Idham Khalid menyebut hari-hari ini peternak sapi di Loteng sedang diuntungkan dengan tingginya harga sapi potong. Kenaikan harga di tingkat peternak ini berimbas langsung pada tingginya harga daging di pasaran.
“Hari-hari ini peternak diuntungkan karena harga sapi tinggi yang berpengaruh terhadap harga daging yang tinggi. Namun di sisi lain konsumen merasa berat dengan harga daging tersebut,” ungkapnya.
Untuk menjaga keseimbangan agar peternak tetap untung namun konsumen tidak terlalu terbebani, Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner melakukan upaya stabilisasi melalui pengaturan lalu lintas ternak.
“Kita melalui upaya menstabilkan harga lewat lalu lintas ternak, memberikan rekomendasi kepada pengusaha untuk mendatangkan sapi dari Pulau Sumbawa,” jelasnya.
Pulau Sumbawa dipilih karena merupakan lumbung ternak sapi di NTB. Namun upaya mendatangkan sapi tersebut diakui masih terkendala regulasi yang harus diselesaikan, yakni dokumen ANRIS.
“Tapi hal ini masih terkendala karena kita harus selesaikan ANRIS,” tegasnya.
Untuk mempercepat penyelesaian ANRIS tersebut, pihaknya telah melakukan diskusi lintas instansi.
“Kegiatan Diskusi ANRIS bersama Team dari Dinas Pertanian Loteng, Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi NTB, Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan NTB, team Independen Fakultas Kedokteran Hewan UNDIKMA,” rincinya.
Tidak hanya diskusi, H. Idham Khalid bahkan akan turun langsung ke lapangan ke sentra ternak di Pulau Sumbawa.
“Insya Allah hari Minggu saya mau berangkat ke Dompu, Sumbawa untuk menyelesaikan, untuk kunjungan lapangan ke Dinas Peternakan Dompu, Sumbawa, Karantina Badas,” katanya.
Selain fokus pada pencegahan penyakit dan stabilisasi harga, Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner juga memperketat pengawasan dari hulu hingga hilir untuk menjamin produk asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain Pelayanan Keswan dan Vaksinasi, Pemeriksaan Standar Teknis Tempat Pemotongan Hewan / TPH, Kegiatan Bimbingan Teknis Pengusaha dan Petugas Pelaku Usaha Produk Asal Hewan, serta Kegiatan Pemeriksaan Teknis Persyaratan Teknis Rumah Potong Hewan Unggas untuk mendapat Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
Yang terbaru, pihaknya bersama Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar melakukan kegiatan pengambilan sampel darah dan pemeriksaan kesehatan hewan di Pasar Hewan Barabali.
“Kegiatan pengambilan sampel darah dan kesehatan hewan di Pasar Hewan Barabali bersama Balai Besar Veteriner Denpasar,” ujarnya.
Kegiatan di Pasar Barabali ini dikatakan bersifat situasional, tergantung permohonan dan perintah dari BBVet. Namun dipastikan setiap tahun pasar hewan menjadi lokasi wajib untuk monitoring Keswan.
“Situasional tergantung permohonan dan perintah dari BB Vet yang jelas tiap tahun untuk pasar hewan untuk memonitor Keswan di pasar,” jelasnya.

Tujuan utama dari pengambilan sampel darah tersebut adalah untuk dua hal. Pertama untuk mengevaluasi efektivitas program vaksinasi yang telah dijalankan. Kedua untuk memastikan hewan yang diperjualbelikan benar-benar memenuhi standar kesehatan hewan.
“Apakah vaksin kita berhasil atau tidak dan hewan yang dijual memenuhi standar Keswan atau tidak. Ambil darah untuk di lab,” pungkas H. Idham.
(HSH)









