Ketua Bhayangkari Lotara: Ny. Heny Agus Purwanta Tegaskan Festival Gili 2025 Jadi Etalase Budaya dan Ajak Masyarakat Rawat Tradisi Rebo Bontong - Mandalikatoday




Home / Peristiwa

Kamis, 21 Agustus 2025 - 06:32 WIB

Ketua Bhayangkari Lotara: Ny. Heny Agus Purwanta Tegaskan Festival Gili 2025 Jadi Etalase Budaya dan Ajak Masyarakat Rawat Tradisi Rebo Bontong

Ketua Bhayangkari Lotara: Ny. Heny Agus Purwanta Tegaskan Festival Gili 2025 Jadi Etalase Budaya dan Ajak Masyarakat Rawat Tradisi Rebo Bontong

Mandalikatoday-Lombok Utara,(NTB) — Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tradisi Rebo Bontong atau ritual Mandi Safar sebagai identitas budaya Gili sekaligus modal sosial dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Lombok Utara.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Gili Festival 2025 di Gili Air, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Rabu (20/8). Festival yang menampilkan ritual adat Rebo Bontong ini masuk dalam jajaran 110 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

“Rebo Bontong adalah cara kita sebagai penghuni memaknai alam sebagai bagian dari pensucian diri. Kita mandi di laut untuk kembali suci, maka laut harus dijaga kesuciannya, tidak boleh rusak. Mensucikan diri berarti menggunakan air yang suci,” ujar Ny. Heny.

Baca Juga :  Polsek Kawasan Mandalika Bubarkan Balap Lari Liar, Di Duga Jadi Ajang Taruhan

Ia menekankan, rangkaian tradisi mulai dari doa bersama, begibung (makan bersama), melarung miniatur kapal, hingga mandi laut bukan sekadar seremonial, melainkan simbol solidaritas, empati, dan kebersamaan. Menurutnya, gotong royong warga dalam menyiapkan hidangan, interaksi hangat dengan wisatawan, hingga kebersamaan di laut mencerminkan kekuatan budaya yang bernilai tinggi.

Lebih jauh, Ny. Heny menegaskan Bhayangkari tidak hanya berperan mendampingi Polri, tetapi juga menjadi jalur komunikasi sosial yang mendukung kebijakan pemerintah, terutama dalam pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Bhayangkari dan seluruh organisasi perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga budaya dan keseimbangan sosial. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyapa masyarakat sekaligus ikut menjaga warisan budaya,” tegasnya.

Ia menilai, penetapan Rebo Bontong sebagai KEN merupakan kebanggaan sekaligus peluang besar yang harus dirawat dengan inovasi berkelanjutan. “Meski festival ini mampu mendongkrak occupancy hotel hingga 100 persen, transformasi dan keberlanjutan tetap menjadi kunci. Generasi muda harus hadir dengan ide segar,” ujarnya.

Baca Juga :  Kodim 1620/Loteng Gelar Open Donasi Peduli Korban Bencana Di Sumatera.

Sementara itu, Kepala Biro SDM dan Organisasi Kementerian Pariwisata RI, Antonio Wasono Imam Prakoso, menyebut KEN bukan sekadar kalender acara tahunan, melainkan sarana memperluas pasar wisata dan memperkuat ekonomi masyarakat.

“Gili Festival 2025 memadukan tradisi, seni, dan konservasi dengan latar keindahan tiga Gili. Dengan tema Feel the Sensation, Feel the Excitement, kami ingin wisatawan merasakan kegembiraan yang sama dengan masyarakat lokal. Event ini menonjolkan kesetaraan, kebersamaan, dan kearifan lokal,” katanya.

Ia menekankan, pengembangan event pariwisata harus berangkat dari unique selling point serta inovasi kreatif agar menjadi daya tarik yang kuat. “Kementerian mendukung penuh penyelenggaraan Gili Festival demi pencapaian target 16 juta wisatawan mancanegara, 1,08 miliar pergerakan wisatawan nusantara, dan 25,8 juta tenaga kerja sektor pariwisata pada 2025,” jelasnya.

Baca Juga :  Polres Lombok Utara Berduka, Kehilangan Seorang Bhayangkara Muda

Dukungan itu dituangkan melalui lima program unggulan: transformasi digital pariwisata (tourism 5.0), gerakan wisata bersih, penguatan gastronomi, pengembangan merry and wellness tourism, serta event global berbasis budaya lokal dan desa wisata.

Di akhir pernyataannya, Ny. Heny menekankan pentingnya menyeimbangkan modernisasi dengan kearifan lokal dalam mengemas tradisi. “Pelestarian budaya adalah citra masyarakat lokal yang arif sekaligus modal sosial pariwisata. Modernisasi hanyalah alat. Jika dikelola tepat, hasilnya bisa maksimal,” katanya.

Ia menutup dengan komitmen Bhayangkari untuk terus terlibat dalam kegiatan budaya dan pariwisata, termasuk bermitra dengan manajer pariwisata dalam event mendatang. baik skala nasional maupun kegiatan pengembangan SDM pariwisata.

“Bahagia itu ketika kita bisa membuat banyak orang ikut berbahagia. Melalui pelestarian budaya seperti Rebo Bontong, kita mewujudkan kebahagiaan bersama yang berdampak luas bagi masyarakat,” pungkasnya.

(JB)

Share :

Baca Juga

Headline

Respons Cepat Damkartan Lombok Tengah Tekan Dampak Kebakaran Ruko di Jalan Raya Mujur

Peristiwa

Cegah Dampak Negatif ke Masyarakat, Babinsa Pandan Indah Sosialisasi Bahaya Judi Online

Peristiwa

Pimpinan Cabang BPR Dompu di Pecat Tampa Prosedur dan Dituduh Terima Suap Nasabah.

Pembangunan

Sambut Hari Jadi Humas Polri Ke-72, Bidhumas Polda NTB Baksos salurkan 12000 liter Air Bersih.

Peristiwa

Keributan di Dusun Montong Buwuh Desa Meninting, Dua Orang Luka-luka, Polres Lombok Barat Tangani Serius

Peristiwa

Istri Oknum Kadus di Jonggat Diduga Jual Emas Palsu Terancam Hukum.

Peristiwa

Ratusan Personel Polda NTB Siap Lakukan Tugas Pengimbang Pengamanan WWF Ke-10

Peristiwa

Warung Dahlia Tambang Elih Lobar Dibakar Orang Tak di Kenal, Korban Minta Pelaku Segera Ditangkap