PEMIRA INKES YARSI Mataram 2025, Digugat Cacat Prosedural dan Mencederai Demokrasi Kampus Terbungkam. - Mandalikatoday




Home / Polemik

Kamis, 6 November 2025 - 20:04 WIB

PEMIRA INKES YARSI Mataram 2025, Digugat Cacat Prosedural dan Mencederai Demokrasi Kampus Terbungkam.

PEMIRA INKES YARSI Mataram 2025, Digugat Cacat Prosedural dan Mencederai Demokrasi Kampus Terbungkam.

  1. Mandalikatoday-Mataram,(NTB) — Sejumlah mahasiswa (INKES) YARSI Mataram yang tergabung dalam Aliansi Peduli Demokrasi Kampus (APDK) resmi mengajukan gugatan terhadap hasil Pemilihan Raya (PEMIRA) INKES YARSI Mataram 2025. Gugatan ini diajukan karena ditemukan banyak kejanggalan dan pelanggaran prosedural yang dianggap mencoreng prinsip demokrasi di lingkungan kampus.

Menurut keterangan APDK, pelaksanaan PEMIRA tahun ini tidak memenuhi syarat sah secara prosedural maupun etika penyelenggaraan pemilu mahasiswa, dengan rincian sebagai berikut:

1. Tidak Ada Calon yang Memenuhi Persyaratan Resmi dari PEMIRA.
Seluruh pasangan calon dinilai tidak lolos verifikasi administrasi sesuai syarat yang ditetapkan panitia sendiri.
2. AD/ART PEMIRA Belum Disahkan.
Proses PEMIRA berjalan tanpa dasar hukum yang sah karena dokumen AD/ART belum mendapatkan pengesahan resmi.
3. Pencoblosan Tidak Sah dan Cacat Prosedural.
Jumlah pemilih tidak mencapai batas minimal 50% + 1 suara dari total mahasiswa aktif, yang berarti hasil pemilihan tidak mencerminkan legitimasi demokratis.
4. Panitia Memberikan Surat Peringatan Tanpa Kejelasan Tindakan.
Tidak ada tindak lanjut atau mekanisme keberatan yang transparan terhadap surat peringatan tersebut.
5. Tim Paslon Nomor Urut 1 Mencegat Saksi.
Pada pukul 16.15, saksi dari pihak lain dicegat saat hendak memeriksa surat suara, menghambat proses pengawasan independen.
6. Pendukung Paslon Nomor Urut 1 Masuk Dua Kali ke Arena Pencoblosan.
Ditemukan pelanggaran serius berupa pendukung yang masuk kembali tanpa atribut atau izin resmi panitia.
7. Aturan Tidak Ditetapkan Secara Formal.
Regulasi PEMIRA hanya berupa catatan tanpa bukti legal seperti tanda tangan Ketua Panitia, sehingga tidak memiliki kekuatan administratif.
8. Demokrasi yang Dipertanyakan.
Banyak mahasiswa memilih untuk tidak memberikan suara karena tidak percaya pada tiga pasangan calon yang maju. Kondisi ini mencerminkan hilangnya kepercayaan publik terhadap proses dan aktor demokrasi kampus.

Baca Juga :  Kapolda NTB Apresiasi Warga Monjok dan Taliwang yang Serahkan Senjata dan Sepakat Berdamai

“Proses PEMIRA kali ini cacat dari hulu ke hilir. Tidak ada kejelasan hukum, prosedur dilanggar, dan asas keadilan diabaikan. Ini bukan demokrasi, ini manipulasi,” tegas ” Lalu Teguh firdaus, salah satu penggugat dari YARSI Mataram.

Baca Juga :  Sengketa Lahan Seger Kute Sudah Clear end Kline, Lale Uswatun Kawal NTB: Jangan ada yang buat Ribut lagi.

APDK menegaskan bahwa gugatan ini bukan bentuk ketidakpuasan terhadap hasil, melainkan tindakan moral dan konstitusional untuk menegakkan integritas demokrasi mahasiswa. Mereka menuntut agar hasil PEMIRA 2025 dibatalkan, kemudian dilaksanakan ulang dengan mekanisme yang sah, transparan, dan berlandaskan AD/ART yang sudah disahkan.

Baca Juga :  Tak Percaya Inspektorat Loteng Kawal NTB Minta BPKP Audit Hibah Kubah Masjid Agung Praya

“Kami tidak sedang memperjuangkan kekuasaan, tapi keadilan dan etika dalam berorganisasi. Demokrasi kampus tidak boleh dijadikan alat legitimasi bagi proses yang cacat,” tutup Teguh.

(JB)

Share :

Baca Juga

Polemik

L Kariadi S.Kom Wakil Ketua Bidang Organisasi KONI Loteng

Polemik

M.SQ Siap Maju Kembali Jadi Ketua Koni Lombok Tengah 2025

Polemik

Ketum Sasaka NTB Angkat Bicara Menyerukan Pernyataan dan Meminta Kedua kubu Kuasa Hukum Menahan Diri.

Polemik

Terkait Rona Rona Di Labulia, Anggota BPD Angkat Bicara

Polemik

Miq Gite Angkat Bicara Isu Pencopotan Dirinya di Tugaskan Jelang Pilkada NTB 2024.

Polemik

Diduga Ketua LSM GPAN Lombok Tengah Tilep Sewa Soundsystem Saat Aksi di ITDC Kek Mandalika.

Polemik

Ketum Deklarasi NTB Minta Disprindag Sidak Kelangkaan Semen di Kabupaten Lombok Tengah.

Polemik

Ormas Sasaka Nusantara NTB, Dukung Polri di Bawah Presiden.