Komisi II DPRD Loteng Terima Haering GMPRI Soal Sengketa Lahan Masyarakat Desa Prabu Yang di Kuasai Pt. Pall. - Mandalikatoday




Home / Polemik

Rabu, 1 Oktober 2025 - 22:06 WIB

Komisi II DPRD Loteng Terima Haering GMPRI Soal Sengketa Lahan Masyarakat Desa Prabu Yang di Kuasai Pt. Pall.

Komisi II DPRD Loteng Terima Haering GMPRI Soal Sengketa Lahan Masyarakat Desa Prabu Yang di Kuasai Pt. Pall.

 

Mandalikatoday-Lombok Tengah,(NTB) – Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI) bersama Masyarakat Desa Ketare dan Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, kembali melakukan hearing ke sekian kalinya ke Kantor DPRD Lombok Tengah berlangsung di aula Lantai II Gedung DPRD Loteng pada Rabu (1/10/2025).

Masyarakat pemilik Lahan meminta BKSDA Provinsi NTB mencabut izin PT PAL karena diduga tidak memiliki izin operasi yang valid. Pasalnya, PT PAL telah beberapa kali tidak menghadiri hearing di DPRD Lombok Tengah, termasuk Dirut PT PAL Lalu Jelamin yang absen sebanyak tiga kali.

Diduga Tanah Dirampas PT PAL, Masyarakat Dari Dua Desa Berjuang Untuk Hak-Hak Mereka

Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah, LM Ahyar, menyatakan kesal dengan pengelola PT PAL dan berencana melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke lokasi tanah seluas 50 hektar yang menjadi objek sengketa.

“Sengketa ini bermula dari klaim Masyarakat Desa Ketare dan Prabu Kecamatan Pujut Loteng yang merasa tanah adat mereka seluas 50 hektar telah dirampas sepihak oleh pihak-pihak PT PAL untuk dijadikan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.” Terang Ketua Komisi II Lalu Muhammad Akhyar.

Baca Juga :  Diduga Ketua LSM GPAN Lombok Tengah Tilep Sewa Soundsystem Saat Aksi di ITDC Kek Mandalika.

Masyarakat dua desa telah melakukan berbagai upaya dan protes karena merasa hak-hak mereka tidak diakui. Mereka juga telah meminta Bupati Lombok Tengah untuk mencari solusi agar hak-hak warga tidak dikorbankan dalam persoalan ini.

Sementara Pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) membantah tuduhan membiarkan PT PAL beroperasi tanpa izin yang valid.” Saat ini sudah dilakukan Evaluasi, mulai dari tanggal 15 Oktober 2025.” Sebut Bambang Kepala BKSDA NTB.

BPN Lombok Tengah Batalkan Sertipikat di TWA Gunung Prabu

Kepala Seksi Pencegahan dan Penanganan Sengketa Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lombok Tengah, Winardi, mengkonfirmasi adanya pembatalan sertipikat tanah di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pembatalan ini diduga terkait dengan pembelian lahan oleh orang asing yang menjadi korban.

“Sertipikat tanah telah dibatalkan karena dugaan cacat administrasi, Korban Orang asing yang membeli lahan tersebut,” jelasnya.

Proses Pembatalan Sertipikat

Pembatalan sertipikat tanah dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu Pengajuan permohonan kepada Menteri ATR/BPN, Jika terdapat kesalahan hukum dalam proses penerbitannya Gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Jika sertipikat tersebut dinilai memiliki cacat.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Pelanggaran Pilkades Lantan: BPD dan Panitia Resmi Memberhentikan Oknum Perangkat Desa dari Kepanitiaan

Pasal yang Mengatur Pembatalan Sertipikat

“Pembatalan sertipikat tanah diatur dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun 2020 tentang Penanganan dan Penyelesaian Kasus Pertanahan. Pasal 64 ayat (3) Peraturan tersebut menyebutkan bahwa permohonan pembatalan dapat dilakukan jika diduga adanya cacat hukum administrasi dan/atau cacat yuridis terhadap produk hukum.” Jelasnya.

Ketua GMPRI Loteng, Nasruddin, mendesak BKSDA NTB untuk mencabut izin PT PAL karena perusahaan tersebut diduga telah merampas tanah masyarakat Desa Ketare dan Desa Prabu yang telah dikuasai secara turun-temurun selama puluhan tahun. Nasruddin juga meminta DPRD Komisi II untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di lokasi tanah sengketa tersebut.

Mengembalikan Hak-Hak Masyarakat

Sebelumnya, Tanah seluas 50 hektar di TWA Gunung Prabu Loteng yang diklaim sebagai tanah adat dan dikuasai secara turun-temurun oleh masyarakat. Tanah tersebut dijadikan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu dan dikelola oleh PT PAL.” berdasarkan tidak mempunyai izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) RI atau izin Kadaluarsa,” jelas Nasruddin.
“PT PAL diduga tidak memiliki izin operasi yang valid dan diduga melakukan penjualan lahan tanpa hak, sehingga masyarakat menuntut pencabutan izin dan pengembalian tanah.” Tutupnya.

Baca Juga :  Sengketa Lahan Seger Kute Sudah Clear end Kline, Lale Uswatun Kawal NTB: Jangan ada yang buat Ribut lagi.

Sambung Lalu Buntaran, Pemilik Lahan TWA Gunung Prabu, Desak BKSDA Segera Selesaikan Sengketa Tanah masyarakat Dua Desa

Selain itu Lalu Buntaran mendesak BKSDA untuk segera menyelesaikan sengketa tanah TWA Masyarakat dua desa yakni Desa Ketare dan Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Buntaran memberikan ultimatum kepada BKSDA untuk mencabut izin PT PAL dalam waktu satu bulan sebelum ia membawa massa ke kantor BKSDA.

Tuntutan Pemilik Lahan

1. Mencabut izin PT PAL dalam waktu satu bulan
2. Mengembalikan lahan masyarakat yang diklaim sebagai tanah adat guna Mencegah konflik yang lebih luas di masyarakat.

3. Desak Komisi II DPRD Segera Turun Monev dilahan Sengketa.

“Masyarakat Desa Prabu dan Desa Ketare menolak keberadaan PT PAL dan meminta pemerintah pusat mencabut semua perizinan PT PAL serta mengembalikan lahan TWA kepada masyarakat. Sengketa tanah ini telah berlangsung lama dan menimbulkan ketegangan antara masyarakat dan PT PAL.” Timpal Lalu Eko Winardi pembina GMPRI.

Dalam Hearing tersebut juga dihadiri oleh Pihak Dinas LH Loteng, ATR/BPN Loteng, Dispenda Loteng dan Anggota Komisi II DPRD HM. Nasip, S,IP.

(JB)

 

Share :

Baca Juga

Polemik

Komite Ponpes Abdul Barokat Kecamatan Jonggat Liburkan Sementara 450 Santriwati dan Kondosifkan Isu Yang Beredas dI Media Sosial.

Peristiwa

Forum Kadus Laporkan Warga Sukarara Sebar Isu Hinaan di Media Sosial, Wakil Ketua Forum BPD Kecamatan Jonggat Iwan Wahyudi. Angkat Bicara Bela Warga Yang Berani Kritik Kinerja Kepala Dusun

Polemik

Warga Berikan Makanan Ke Pos Polisi Sebagai Ucapan Terimakasih Atas Penjagaan Di Pujut

Polemik

L. Firman Wijaya Resm Jabat Ketua KONI Lombok Tengah Periode 2025-2029.

Polemik

Anggota DPRD Loteng, Murdani Kritisi Kawasan Mandalika Semakin Semerawut

Polemik

Ketua Koni M.SQ Resmi Melaporkan Oknum Panitia Musorkab Yang Diduga Palsukan Stempel ke Mapolres Lombok Tengah.

Polemik

Bupati Lombok Tengah, Minta APH Tindak Tegas FEC Yang Catut Namanya.

Polemik

Mediasi Konflik Dua Desa di Pujut Sepakat Berdamai.